Jalanan Kota Serang berubah menjadi panggung budaya. Beragam kesenian tradisional, kreativitas pelajar, komunitas, seniman, hingga masyarakat umum berpadu dalam Pawai Budaya yang menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-19 Kota Serang.
KOTA SERANG – Senin (17/8/2026), Di balik kemeriahannya, pawai budaya tersebut membawa pesan yang lebih jauh: pembangunan kota tidak cukup hanya ditandai dengan kemajuan fisik, tetapi juga harus berjalan beriringan dengan kuatnya identitas dan karakter masyarakat.
Pawai Budaya Kota Serang 2026 yang digelar di kawasan Royal Baroe menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk menunjukkan kekayaan seni dan budaya daerah. Antusiasme peserta dan penonton membuat kegiatan tersebut tak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi perayaan bersama atas jati diri Kota Serang.
Wali Kota Serang Budi Rustandi mengatakan, pawai budaya merupakan momentum untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya lokal sekaligus memperkuat rasa kebersamaan antarwarga.
«“Melalui kegiatan ini, kita dapat menunjukkan rasa bangga dan cinta terhadap budaya daerah sekaligus mempererat kebersamaan di antara masyarakat,” kata Budi.»
Sejumlah kesenian khas Kota Serang turut mencuri perhatian sepanjang pelaksanaan pawai. Sawung Patok, Terbang Gembung, hingga Yalil tampil membawa warna tersendiri dan mengingatkan masyarakat bahwa Kota Serang memiliki kekayaan tradisi yang layak terus diperkenalkan.
Bagi pemerintah daerah, kesenian tradisional bukan hanya warisan masa lalu. Keberadaannya menjadi bagian dari identitas Kota Serang yang perlu dijaga agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Karena itu, generasi muda dinilai memiliki peran penting. Pengenalan budaya sejak dini diharapkan membuat kesenian tradisional tidak berhenti sebagai cerita sejarah, melainkan tetap dipelajari, dipentaskan, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.
«“Kami berharap keberadaan budaya tersebut dapat terus dikenalkan kepada generasi muda, sehingga tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” ujar Budi.»
Semarak pawai juga tidak lepas dari keterlibatan berbagai elemen masyarakat. Pelajar, seniman, budayawan, komunitas, hingga masyarakat umum ikut mengambil bagian. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan gerakan bersama yang membutuhkan partisipasi masyarakat.
Pawai budaya pun menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan kreativitas. Budaya lokal tidak hanya dipertahankan dalam bentuk aslinya, tetapi juga diperkenalkan melalui pertunjukan yang dekat dengan masyarakat dan generasi muda.
Budi menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah ikut menyukseskan kegiatan tersebut. Ia berharap energi kebersamaan yang muncul dari pawai dapat terus dipelihara dan menjadi bagian dari semangat membangun Kota Serang.
«“Mari kita ikuti pawai budaya ini dengan penuh semangat,” ajaknya.»
Momentum HUT ke-19 Kota Serang akhirnya bukan hanya tentang bertambahnya usia sebuah daerah. Pawai Budaya menunjukkan bahwa semakin maju sebuah kota, semakin penting pula masyarakatnya mengenali dan merawat akar budayanya.
Dengan semangat “Madani, Maju, dan Berbudi”, budaya diharapkan tidak hanya menjadi ornamen dalam perayaan tahunan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kota Serang.
Sebab, kemajuan tanpa identitas berisiko membuat sebuah kota kehilangan ciri khasnya. Sebaliknya, ketika pembangunan berjalan bersama pelestarian budaya, Kota Serang dapat tumbuh menjadi kota yang modern tanpa tercerabut dari akar tradisinya.